The best bookmaker bet365

Menu

Peran Ushul Fiqh, dalam Konteks Kekinian

  • Dilihat: 662

Oleh : Ponirin Mika*

Alqur’an diwahyukan oleh Allah kepada Nabi Muhammad, sebagai kitab Undang-Undang yang memuat segala peraturan untuk manusia dalam menjalani kehidupan. Segala tata cara dalam menjalani kehidupan sudah termaktub  dalam alqur’an baik tersirat maupun tersurat.

Tempo dulu, yang dikenal dengan masyarakat jahiliyah, sebelum Allah menurunkan Alqur’an kepada Nabi yang menjadi kekasihNya, kondisi kehidupan manusia tidak teratur dalam melaksanakan peribadatan, pergaulan dalam menjalani kehidupan lainnya. Penyebutan jahiliyah terhadap zaman itu bukanlah tanpa alasan, jahiliyah bukan hanya mengungkap bahwa manusia saat itu bodoh, tapi lebih dari itu. Dimana aktifitas-aktifitas yang dilakukannya berdasarkan keinginan hawa nafsunya tanpa mempertimbangkan etika dan moralitas sebagai mahluk yang mempunyai kepribadian yang baik dan mempunyai nilai ketuhanan yang sempurna.

Melihat kondisi seperti itu, Allah mengutus seorang rasul Muhammad SAW dengan dibekali peraturan dan ajaran lengkap untuk mengatur, mengelola agar kehidupan yang dijalani tentram, baik, bermartabat dan terarah. Dan Allah berkehendak bahwa Alqur’an sangat tepat dijadikan sebagai kitab Allah yang paling terakhir diberikan pula kepada Nabi penutup seluruh Nabi dan rasulnya, untuk dijadikan sebagai hudan, irsyad, ibrah bagi umat manusia.  Firman Allah yang agung ini, tidak semua hambanya mampu menginterpretasi ayat-ayat yang termuat di dalamnya. Sehingga tidak sedikit interpretasi rasul yang disebut dengan “bayan tafsir” menjelaskan beberapa firman Allah yang butuh penjelasan. Sehingga sahabat, masyarakat pada waktu itu mudah memahami. 

Kita sadar  meskipun Alqur’an adalah kitab undang-undang kehidupan, namun isi ayatnya ada yang jelas teksnya berkait dengan hukum sesuatu untuk dijadikan acuan dan diikuti, ada yang belum jelas teksnya dalam menentukan hukum. Sehingga tidak menutup kemungkinan untuk ditafsiri berkait dengan persoalan semakin berkembang dan perlu dicarikan hukumnya. Mengingat saat ini, persoalan-persoalan terjadi tentunya menjadi sangat urgen untuk mencari jawabannya, disinilah dibutuhkan beberapa perangkat penting agar persoalan itu bisa dijawab dengan baik, perangkat-perangkat itulah yang menjadi salah satu objek pembahasan ushul fiqh.

Menurut penulis, ada 3 objek pembahasan dalam ushul fiqh : pertama : membahas tentang dalil-dalil,: kedua : metode istimbat dalil,: ketiga : orang yang di anggap kapabel dalam beristimbat. Dalil-dalil tersurat yang tertera di dalam Alqur’an dan hadits tidak semuanya membahas persoalan amaliyah manusia dalam menjalani kehidupan, sementara amaliyah seseorang selalu berkembang disebabkan oleh dirinya sebagai mahluk kreatif sesuai dengan tuntutan zaman dan kebutuhannya. Untuk menjawab persoalan itu maka diperlukan adanya pencarian dalil. Sesuai dengan sabda Nabi kepada Muadz Bin Jabal waktu beliau diutus oleh Rasul untuk menjadi gubernur di negeri Yaman. Sebelum berangkat ke Yaman, Rasul bertanya kepada sahabat Muadz, “Ya Muadz jika engkau menemukan pesoalan di negeri Yaman maka kamu akan memecahkan persoalan itu melalui apa?, sahabat Muadz menjawab saya akan memutuskan dengan kitab Allah, Nabi bertanya kembali kepada Muadz, jika di dalam kitab Allah tidak ada? Sahabat Muadz menjawab saya akan memutuskan dengan hadits Nabi, Nabi mlanjutkan pertanyaannya, jika didalam hadits tidak ada? Sahabat Muadz menjawab saya akan memutuskan dengan pikiran saya, mendengar jawaban dari sahabat muadz Nabi menyetujuinya.

Melihat dari percakapan Nabi dan sahabat Muadz, mengindikasikan bahwa persoalan semakin berkembang dan dituntut untuk dicarikan solusinya. Mencari solusi masalah yang berkaitan dengan hukum, tidak sembarang orang bisa melaksanakannya, karena orang yang dipandang bisa untuk beristimbat dalil adalah orang yang memenuhi kriteria mujtahid. Mujtahid itu adalah seseorang yang mampu mengerahkan segala potensi rasio yang dimilikinya dengan beberapa syarat yang dituntukan, untuk memutuskan persoalan hukum yang berkaitan dengan perbuatan manusia.

*Guru Ushul Fiqh Madrasah Aliyah Nurul Jadid Paiton Probolinggo

The Best bookmaker bet365 Bonus