The best bookmaker bet365

Menu

Menghapus Kalimat (Siswa) Buangan

  • Dilihat: 586

Ponirin Mika*

Seringkali kita mendengar kalimat-kalimat negatif ditujukan kepada sebagian siswa oleh sebagian siswa dan tenaga Pendidik. Pemerhati Pendidikan, menilai hal ini sangat tidak baik apabila terjadi, lebih-lebih di dunia Pendidikan.

Label negatif menjadi stigma dalam dunia pendidikan. Salah satu penyebabnya adalah tuntutan kurikulum yang selalu berganti-ganti, sehingga sekolah/madrasah menyesuaikan dengan kebutuhan. Lembaga pendidikan acapkali mengadakan seleksi masuk bagi para siswa baru untuk menentukan jurusan yang layak baginya. Bahkan tidak sedikit lembaga pendidikan yang memberi pelayanan penuh bagi jurusan yang dianggap aset bagi lembaga. Sehingga melupakan esensi pendidikan, bahwa memandang siswa. Siswa mempunyai kecerdasan meski kecerdasan itu berbeda-beda. Pemberian label negatif akan membuat siswa minder dan tidak bisa leluasa berkreasi karena akan diselimuti malu yang berkepanjangan. Disitu perlunya kehati-hatian seorang pendidik dalam memberikan respon bagi siswa yang secara akademik mempunyai nilai yang kurang baik.

Pendidikan seharusnya tidak hanya melihat seorang siswa dari satu sisi, melainkan melihat siswa secara menyeluruh untuk memberikan penilaian yang objektif. Kecerdasan non akademik menjadi salah satu alat ukur, agar supaya pernyataan-pernyataan yang mendiskreditkan sebagian siswa terhindarkan. Dalam ilmu psikologi pendidikan disebutkan bahwa tidak ada manusia yang bodoh, manusia semuanya memiliki kecerdasan, meski kecerdasan itu berbeda-beda. Kecerdasan ini merupakan pemberian Allah kepada seluruh hambanya. Kecerdasan bukan hanya dimiliki segelintir manusia, akan tetapi seluruh hamba Allah (manusia) mempunyai kecerdasan.

Kecerdasan yang berbeda-beda itu, agar satu sama lain saling mengisi, saling melengkapi untuk menciptakan kerukunan dalam hidup beragama, berbangsa dan bernegara. Bagaimana seandainya, setiap manusia mempunyai kecerdasan yang sama dalam menjalani kehidupan, mungkin gesekan menuju persolan negatif sulit terhindarkan.

Sekolah sebagai sarana  pendidikan harus membaca persoalan bahkan menyelesaikannya, jangan sampai menciptakan ketidakharmonisan dalam naungan institusinya. Bisa juga dibuktikan bahwa tidak ada satupun manusia yang menguasai segala ilmu pengetahuan, baik ilmu pengetahuan agama maupun pengetahuan umum. Pasti ada spesifikasi pengetahuan tertentu yang dimiliki oleh semua para siswanya, untuk itu mari memandang siswa se OBYEKTIF mungkin agar kita mampu memberikan pelayanan yang baik dalam rangka memanusiakan MANUSIA.

*Ketua Program IPS Madrasah Aliyah Nurul Jadid

The Best bookmaker bet365 Bonus