The best bookmaker bet365

Menu

Pendidikan Kemandirian di Pesantren

  • Dilihat: 1746

Oleh: Ainul Yakin

Salah satu kelebihan pendidikan yang ada di lembaga pendidikan pesantren adalah kemandirian santri. Kemandirian bagi seorang anak didik sangat penting karena diantara tujuan pendidikan adalah mewujudkan anak didik agar menjadi orang yang mandiri. Baik mandiri secara sosial, ekonomi, maupun mandiri sebagai seorang pribadi.

Pendidikan kemandirian yang banyak diterapkan di lembaga pendidikan utamanya pendidikan formal di luar pesantren masih banyak berupa teori dan konsep bukan menekankan pada praktik. Walaupun ada, praktik yang mengarah kepada latihan kemandirian itupun porsinya masih sangat kecil. Beda halnya dengan latihan kemandirian yang diterapkan di pesantren.

Di pesantren, selama 24 jam santri dididik untuk menjadi santri yang mandiri. Karena di pesantren santri tinggal berjauhan dari kedua orang tuanya. Santri yang biasanya berkumpul dengan orang tua, nenek, teman-teman sebaya dan saudara-saudaranya, selama di pesantren mereka harus ditinggalkan. Mereka dilatih agar dapat beradaptasi dengan lingkungan yang sama sekali baru bagi mereka.

Selama di pesantren, santri dituntut agar bisa mengatur hidupnya sendiri dengan baik sesuai dengan aturan yang berlaku di pesantren. Mulai dari cara mengatur kegiatan ibadah, pola makan,  waktu istirahat, tidur, belajar, ekonomi (belanja.red), kesehatan, beradaptasi dengan lingkungan baru dan seterusnya. Termasuk masalah psikologis dan masalah-malasah sosial yang dihadapi. Santri dituntut agar mampu mengatasinya dengan dirinya sendiri dengan sebaik mungkin. Selama 24 jam, kegiatan santri berupa kegiatan yang positif yang sebisa mungkin dilakukan secara mandiri tanpa harus setiap saat dikontrol oleh pengurus pesantren.

Pendidikan kemandirian yang diterapkan di pesantren lebih menekankan pada latihan atau praktik dan langsung, serta berupa contoh-contoh dari santri yang lebih senior dan pemangku pesantren daripada berupa konsep dan teori. Sehingga tidak heran jika out put pesantren lebih siap mental dan lebih mandiri daripada mereka yang pendidikannya di luar pesantren dan berkumpul dengan orang tuanya.

Karena keberhasilan pesantren mencetak santri yang mandiri, terbukti dengan di akhir-akhir ini banyak pendidikan di luar pesantren yang meniru pola pendidikan yang ada di pesantren. Seperti sejumlah perguran tinggi dalam negeri maupun luar negeri seperti Malaysia yang menerapkan sistim asrama dengan pola pembelajaran full day school, home schooling dan sebagainya. Sebenarnya sistim tersebut di pesantren sudah jauh sebelumnya telah diterapkan. Kerana dengan cirri khas dan karakter pesantren yang sifatnya mandiri tersebut telah mampu melahirkan genarasi yang kuat dan mandiri.

Secara teoritis, fungsi pendidikan dibagi menjadi dua yaitu; fungsi manefes dan laten. Fungsi manefes adalah fungsi yang ingin dicapai dan diharapkan keberhasilannya dari diselenggarakannya pendidikan. Di antara fungsi manefes pendidikan adalah lahirnya out pendidikan dewasa dan mandiri yang memiliki skill dan keterampilan khusus yang dapat dijadikan alat untuk menghidupi dirinya sehingga menjadi insan yang mandiri.

Dalam konteks ini pesantren telah menerapkan latihan keterampilan, hidup mandiri dan kepemimpinan dan kebersamaan kepada semua santrinya. Karena di pesantren tidak kenal yang namanya pandang bulu. Semua santri diperlakukan sama. Tidak dilihat dari perbedaan latar belakang, status sosial maupun perbedaan suku, daerah dan etnis. Tidak ada perlakuan yang berbeda antara satu dengan yang lain. Santri senior maupun junior harus menaati aturan yang berlaku di pesantren.

Dengan cara demikian, kemungkinan tercapainya kemandirian bagi santri sangatlah besar. Mengingat latihan hidup dan kehidupan yang dialami selama tinggal di pesantren juga cukup ketat. Bisa dibayangkan bagaimana santri yang baru lulus Sekolah Dasar yang umurnya berkisar 12-13 tahun sudah harus jauh dari kedua orang tuanya, meniggalkan teman sepermainannya dan seterusnya. Mereka dapat pulang ke kampung halamannya hanya dua kali dalam satu tahun. Mereka belajar kehidupan di pesantren sejak dini, tentunya akan menjadi insan yang memiliki moral tinggi dengan gaya hidup yang sederhana dan bersahaja kelak ketika terjun di masyarakat.

Kemandirian dan kedewasaan hidup tidak akan dicapai hanya dengan pengenalan, pemahaman bahkan penguasaan teori dan konsep semata. Namun kamandirian harus dilatih dan jalani. Dan latihan yang cukup representaratif untuk menjadi insan yang mandiri adalah pendidikan yang ada di pesantren.  Karena pesantren adalah miniatur kehidupan yang sebenarnya di masyarakat. Orang yang sudah matang di pesanten akan dengan mudah dalam menghadapi dan menjalani rintangan kehidupan di masyarakat.

*Ketua Program Bahasa MANJ, email: Alamat email ini dilindungi dari robot spam. Anda memerlukan Javascript yang aktif untuk melihatnya.

The Best bookmaker bet365 Bonus