The best bookmaker bet365

Menu

Pesantren Modern dan Modernisasi Pesantren

  • Dilihat: 763

Oleh. Mawardi, M.PdI*

Sebagai lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia, pesantren tetap saja menarik untuk dikaji dan ditelaah kembali. Pesantren adalah salah satu lembaga pendidikan Islam yang mempunyai kekhasan tersendiri serta berbeda dengan lembaga pendidikan lainnya.

Ditinjau dari segi historisnya, pesantren merupakan bentuk lembaga pribumi tertua di Indonesia bahkan lebih tua lagi dari Republik ini. Pesantren sudah dikenal jauh sebelum Indonesia merdeka.

Sejak Islam masuk ke Indonesia, pesantren terus berkembang sesuai dengan perkembangan dunia pendidikan pada umumnya.

Setidaknya ada dua pendapat mengenai latar belakang berdirinya pondok pesantren di Indonesia. Pertama, bahwa pondok pesantren berakar pada tradisi Islam itu sendiri. Kedua, sistem pendidikan model pondok pesantren adalah asli Indonesia. Tidak bisa dipungkiri, sebagai komunitas dan lembaga pendidikan yang besar jumlahnya dan luas penyebarannya di berbagai pelosok tanah air, pesantren telah banyak memberikan kontribusi dalam membentuk manusia Indonesia yang religius. Lembaga tersebut telah melahirkan banyak guru bangsa di masa lalu, kini dan masa yang akan datang. Lulusan pesantren telah memberikan partisipasi aktif dalam pembangunan bangsa ini.

Pondok pesantren adalah sebuah lembaga pendidikan keislaman yang memiliki peran cukup signifikan di tanah air. Sejak masa penjajahan melanda bangsa ini, kontribusi pesantren dalam memberikan pencerdasan terhadap rakyat yang “terpinggirkan” oleh sistem kolonial benar-benar punya andil sangat besar. Di Jawa Timur sedikitnya terdapat 1500 pondok pesantren, meski hanya beberapa pesantren yang bisa dihitung sebagai pesantren tua, seperti pondok pesantren Sidogiri Pasuruan yang berdiri pada tahun 1718, dan pondok pesantren Langitan Tuban yang berdiri pada tahun 1852.

Pada tahun 70-an, Abdurrahman Wahid telah mempopulerkan pesantren sebagai sub-kultur dari bangsa Indonesia. Sekarang ini, umat Islam sendiri tampaknya telah menganggap pesantren sebagai model institusi pendidikan yang memiliki keunggulan, baik dari sisi transmisi dan internalisasi moralitas umat Islam maupun dari aspek tradisi keilmuan yang oleh Martin Van Bruinessen (1999:17) dinilainya sebagai salah satu tradisi agung (great tradition).

Meskipun begitu, di samping hal-hal yang menggembirakan, perlu pula dikemukakan beberapa tantangan pondok pesantren dewasa ini. Tantangan yang dialami lembaga ini menurut pengamatan para ahli semakin lama semakin banyak, kompleks, dan mendesak. Fenomena tersebut disebabkan oleh kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi (IPTEK). Di tengah derap kemajuan ilmu dan teknologi yang menjadi motor bergeraknya modernisasi, dewasa ini banyak pihak merasa ragu terhadap eksistensi lembaga pendidikan pesantren.

Keraguan itu dilatarbelakangi oleh kecenderungan dari pesantren untuk bersikap menutup diri terhadap perubahan di sekelilingnya dan sikap kolot dalam merespon upaya modernisasi. Menurut Azyumardi Azra (2000:31), kekolotan pesantren dalam mentransfer hal-hal yang berbau modern itu merupakan sisa-sisa dari respon pesantren terhadap kolonial Belanda.

Dengan karakteristiknya sebagai sebuah lembaga pendidikan yang memberikan transformasi keilmuan, pondok pesantren memfokuskan kajiannya pada Tafaqquh Fid Diin (mendalami ilmu agama) sebagai ruh utamanya. Menurut Haidar (2007:22), tidak heran jika pondok pesantren lebih dikenal sebagai lembaga pendidikan tradisional, yang lambat beradaptasi dengan perkembangan dan ditengarai sebagai lembaga pendidikan “kolot” yang hanya mengajarkan ilmu “langit” dengan melupakan pijakannya di bumi.

Hal itu sejalan dengan sejarah pesantren, sebagai lembaga pendidikan yang hanya menghususkan diri dengan pengkajian nilai-nilai agama serta dakwah Islam. Selain itu, kurikulumnya diorientasikan khusus untuk mempelajari dan memahami ajaran-ajaran agama Islam dan tidak didasarkan pada orientasi yang bersifat duniawi sebagai watak mandiri. Itulah gambaran umum pesantren salaf.

Di sisi lain, terdapat pondok pesantren yang memposisikan diri untuk menggabungkan antara  pendidikan umum dengan pendidikan khas pesantren, tipe pesantren ini biasa dikenal sebagai pesantren kholaf atau pesantren terpadu. Dengan kata lain, pesantren kholaf  bisa menerima tuntutan perubahan zaman. Ditandai dengan pelaksanaan kurikulum umum di berbagai lemmbaga-lembaga pendidikan formal yang tersedia di pesantren kholaf tersebut. Bahkan, ada pesantren yang dengan tegas “memproklamirkan” diri sebagai pondok pesantren modern, sebut saja seperti pondok pesantren modern Gontor, Ponorogo.

Stigma pondok pesantren salaf dan kholaf seakan menjadi dikotomi bagi dua lembaga pendidikan Islam tersebut, namun jika melihat realita saat ini, eksistensi pondok pesantren salaf telah mengalami berbagai perubahan yang bisa dibilang pesat, khususnya perubahan terhadap sistem dan pengelolaan kurikulum, adanya sekolah-sekolah umum dan perguruan tinggi. Tak hanya itu, pesantren-pesantren salaf pun mampu menunjukkan eksistensinya dalam dunia bisnis hingga modifikasi dakwah.

Dengan demikian paradigma tentang pesantren salaf yang kolot nampaknya harus segera ditanggalkan, kini pesantren salaf telah melakukan evolusi. Meski dengan “pertaruhan” yang selalu mengintai, nampaknya pesantren-pesantren salaf mulai bangkit dan bergumul dengan tuntutan zaman.

Pergumulan pesantren salaf dengan kemajuan zaman, sebenarnya juga terjadi di pesantren-pesantren kholaf, keduanya sama-sama melakukan proses identifikasi terhadap tuntutan zaman. Karena kedua pesantren dengan karakter berbeda itu memiliki prinsip yang sama yaitu Al-Muhafadhatu Alal Qadimi  Shalih Wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah, (memelihara tradisi lama dan menerima sesuatu yang baru yang lebih baik).

Banyak penilaian atau pandangan tentang salaf dan kholaf yang tersemat pada suatu pondok pesantren. Ada yang menilai pada tataran manajemen yang menjadi pembeda. Bahwa pesantren masuk kategori modern ketika didalamnya telah tertata pengelolaan, administrasi hingga pada bentuk penataan kurikulum yang bisa dianggap representatif terhadap kebutuhan global.

Sebenarnya hampir tidak ada bedanya antara pesantren salaf dan kholaf. Karena jika mengaca pada Gontor, yang secara tegas “memproklamirkan” sebagai pondok pesantren modern, ternyata masih kokoh menggunakan kurikulum buatan sendiri, seperti pondok pesantren salaf pada umumnya dan bukan kurikulum nasional. itu adalah bentuk dari kemandirian ala Gontor yang sebenarnya bisa juga banyak dijumpai di beberapa pesantren lain.

Dan benar kata orang bahwa jika ada dua ribu pondok pesantren maka ada dua ribu macam pondok pesantren dengan keunikan dan kekhasannya masing-masing yang walaupun berbeda tapi perbedaannya tidak terlalu jauh.

Jadi tidak perlu jengah dengan stigma “pesantren modern” karena hampir bisa dipastikan semua pesantren memiliki prinsip Al-Muhafadhatu Alal Qadimi  Shalih Wal Akhdu Bil Jadidil Ashlah, dan untuk memaknai pesantren modern tidak bisa dipahami bahwa telah terjadi modernisasi di segala bidang. Demikian pula sebaliknya, bila suatu pondok pesantren menerapkan modernisasi dalam segala aspek yang ada di dalamnya, tentu pesantren tersebut dengan kekhasannya harus siap untuk bergumul dengan segala bentuk kemoderenan, sesuai dengan tujuan utama yang ingin dacapai.

Meski pergumulan itu akan banyak menguras tenaga dan kerja keras pesantren untuk selalu waspada. Karena dibalik arus globalisasi ini, hampir tak ada batas atau sekat anatara ruang dalam pondok dan dunia luar pondok. Kita berharap segmen masyarakat tertentu untuk tidak apriori menilai pesantren itu telah “kebablasan” dalam memaknai modernisasi pesantren, dan terlepas dari pijakan filosofis pesantren itu sendiri. Wallahu a’lam bisshawab.

*Penulis adalah WKM Kesiswaan MANJ dan Pembina Lembaga Pers Siswa KHARISMA

The Best bookmaker bet365 Bonus