The best bookmaker bet365

Menu

Revitalisasi dan Reaktualisasi Pancasila Dalam Dunia Pendidikan

  • Dilihat: 2053

Oleh: Mawardi, S. Ag. M.Pd.I*

Disadari atau tidak, “nasionalisme’ sebagai sebuah nilai dan wawasan kebangsaan seakan kehilangan arti pentingnya. Tidak disangsikan lagi, kini rasa berbangsa dan senasib-sepenanggungan sebagai bagian dari Indonesia mulai terabaikan. Elemen-elemen bangsa perlahan-lahan kembali menonjolkan identitas primordialnya masing-masing, baik itu ras, suku, bangsa, agama, daerah, maupun afiliasi politik. Nilai-nilai pancasila yang telah berabad-abad menyatukan mereka semua kini mulai melemah. Sikap saling mempercayai antara satu sama lain pun sudah mulai terganggu.

Kondisi sosial politik yang tidak kunjung membaik, ditandai dengan mandulnya penegakan hukum bagi para koruptor, semakin meluasnya konflik penguasa vs rakyat, meliter vs sipil, pemerintah Pusat vs Daerah, serta semakin merajalelanya penggerogotan kekayaan negara (korupsi) merupakan faktor mendasar kenapa banyak unsur masyarakat yang kembali menyoal hidup menjadi bagian dari bangsa Indonesia.

Dalam kondisi seperti ini, sangat penting bagaimana kita menanamkan rasa nasionalisme yang berwujud nilai-nilai pancasila kepada generasi penerus kehidupan bangsa kelak. Sebab, menilik sejarah perjuangan bangsa Indonesia yang berlangsung selama beranad-abad, kemerdekaan tidak bisa direbut dengan hanya semangat yang sesaat menyala lalu redup di kemudian hari. Obor nasionalisme diwariskan generasi ke generasi dengan harapan kemerdekaan akan tercapai kelak. Itulah sebabnya mengapa kendatipun para penjajah kolonial mampu membunuh beribu-ribu rakyat yang melawan, mereka tak pernah bisa mematikan perlawanan itu sendiri.

Ya, kemerdekaan Indonesia bukan direbut semata-mata dengan kekuatan militer maupun birokrasi, yang mengantarkan kita pada kemerdekaan adalah ras nasionalisme berwujud nilai-nilai pancasila yang tertanam begitu kuat dalam sanubari rakyat, hal itu pada gilirannya akan melahirkan apa yang disebut dengan Antikolonialisme. 

Antikolonialisme adalah faktor utama yang mewarnai lahirnya nasionalisme Indonesia. Nasionalisme merupakan sebuah ide progresif yang mengidealkan terbentuknya tatanan masyarakat baru. Masyarakat Indonesia yang berkeadilan sosial, terbebas dari penindasan, dan terhindar dari eksploitasi kolonial. Semangat berkorban (will to sacrifice) adalah aspek terpenting dari nasionalisme kita.

Pancasila sendiri sebagai sebuah ideologi yang digali melalui parenungan panjang oleh para Founding Fathers memiliki sehjarah kelam saat nilai-nilainya tak lebih hanya berfungsi untuk meligitimasi kebijakan-kebijakan rezim pemerintah. Nilai-nilai tersebut mewujud menjadi doktrin buta yang dipaksakan secara sepihak dengan pemahaman yang subjektif pula.

Berkedok pendidikan moral pancasila, rezim Orde Baru mengintervensi jauh ke dalam dunia pendidikan di Indonesia. Para civitas akademika bangsa ini pun tak henti-hentinya dicekoki berbagai pemahaman Pancasil made in pemerintah (baca: rezim Orde Baru). Hak prerogatif  interpretasi pancasila mutlak ada di tangan pemerintah. Sedangkan nilai-nilai tersebut tak selamanya sesuai dengan realitas kehidupan bangsa. Pertentangan pun bermunculan, namun segera dibungkam dengan kekuatan militeristik ala pemerintah saat itu.

Secara sistematis, Orde Baru menancapkan ideologi semu Pancasila dalam setiap dinamika ketata negaraan negara hingga pada ranah pendidikan. “Pendidikan Moral Pancasila” menjadi nama mata pelajaran pokok dari jenjang pendidikan SD hingga SLTA waktu dulu, ditambah dengan P4 (Pedoman Penghayatan Pancasila), kemudian pada jenjang pendidikan perguruan tinggi ada mata kuliah Pancasila.

Implementasi di lapangan, bagi calon mahasiswa bahkan aparatur pemerintahan diwajibkan mengikuti Penataran P4 yang dilaksanakan oleh tim  BP7 (Badan Pembina Pendidikan Pelaksanaan Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila) yang berimplikasi sanksi administratif jika tidak mengikuti kegiatan tersebut.

Seperti diketahui, BP7 adalah lembaga yang dulu bertugas memasyarakatkan empat pilar kebangsaan, yakni Pancasila, UUD 45, Bhinneka Tunggal Ika, dan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), melalui Pedoman Penghayatan dan Pengamalan Pancasila (P4).

Saat itulah dimana nilai-nilai pancasila di bangun diatas pondasi yang rapuh, diatas ketidakpercayaan dan ketidakpuasan berbagai kalangan yang membentuk ketaatan semu akibat ketakutan berlebihan terhadap rezim pemerintah, Pancasila menjadi indoktrinasi sekaligus alat legitimasi penguasa. Puncaknya, saat rezim Orde Baru tumbang pada tahun 1998, ketidakpuasan itu meledak menjadi sebuah konflik multinasional yang menyebabkan kekacauan (chaos effect) yang melanda seluruh negeri,

Pengalaman traumatis tersebut telah turut pula menempatkan pancasila sebagai kambing hitam. Penditorsian parah pun terjadi, Nilai-nilai luhur yang telah mewarnai pola interaksi antar elemen bangsa dengan segala heterogenitasnya selama ratusan tahun tersebut mendadak menjelma menjadi sebuah hantu orde baru, menyuarakannya kembali, berarti memberi kesempatan pada rezim orde baru untuk menghegemoni kembali. Hingga BP7 sebagai badan yang berstruktur dari pusat hingga daerah ini kemudian dihapus di era reformasi.

Dunia pendidikan pun tak luput dari efek domino runtuhnya pilar-pilar kebangsaan. Kurikulum pancasila yang sebelumnya digalakkan di semua jenjang pendidikan mendadak dipangkas sedemikian rupa untuk menghindari indeologi-ideologi itu hidup kembali. Sebuah realita yang sangat memilukan melihat ideologi yang seharusnya menjadi kebanggan kita justru kita sisihkan dari kehidupan.

Hal ini berlanjut hingga saat ini, pendidikan pancasila memiliki porsi yang minim dalam perangkat kurikulum yang diterapkan di sekolah-sekolah. Pendidikan pancasila dan kewarganegaraan seakan hanya merupakan pelengkap saja di tengah-tengah padatnya pelajaran-pelajaran sains dan teknologi. Agaknya, penanaman kesadaran moral, tanggung jawab kebangsaan, rasa nasionalisme menjadi hal yang dilupakan oleh kebanyakan tenaga pengajar

Alhasil, pendidikan yang diharapkan  menjadi oase tempat menanam, menumbuhkan dan mengembangkan kesadaran terhadap nilai-nilai Pancasila justru jauh panggang dari api. Disinilah kita harus merasa khawatir. Akankah tongkat estafet yang telah diwariskan dari generasi ke generasi dapat pula diteruskan oleh generasi mendatang? sedangkan roda perjuangan bergulir semakin cepat, penjajahan pun tak berhenti dengan musnahnya kolonialisme. Penjajahan tersebut kini “berganti baju”, bermetamorfosis dalam bentuk kekuatan ekonomi kapitalis liberalis (neoliberal) yang dalam banyak hal telah mengkooptasi dan menyandera otoritas kebijakan politik domestik, maupun luar negeri.

Di sisi lain, ancaman distegrasi bangsa masih sering menghantui negeri ini. Bahkan yang tak kalah mengkhawatirkan adalah Pancasila sebagai dasar Negara mulai diusik, ideologi baru yang bersembunyi dibalik jargon agama dibenturkan dengan Pancasila. Kepak sayap garuda pun yang membentang dari Sabang sampai Merauke mulai terkoyak.

Pada titik ini, revitalisasi dan reaktualisasi Pancasila merupakan proyek bersama yang senantiasa harus dibangun, dan dipupuk agar keberadaannya tetap segar dan istimewa sebagai tiang penyangga Indonesia, tentu tidak dengan cara-cara seperti rezim Orde Baru. Artinya bahwa Pancasila sebagai dasar Negara dan ideologi tidak dijadikan oleh Negara sebagai alat legitimimasi kekuasaan dalam mengambil kebijakan, pun juga rakyat berhak memberikan interpretasi terhadap Pancasila terkait dengan kebijakan Negara yang menyimpang dari amanat luhur nilai-nilai Pancasila dan Undang-Undang Dasar 1945.

Mencari, menemukan kembali, serta menerjemahkan ulang visi “nasionalisme” Indonesia –yang  saat ini terasa hilang– dalam  kehidupan berbangsa dan bernegara kita adalah pekerjaan yang sangat penting. Begitu pula yang tidak kalah pentingnya adalah dalam lembaga pendidikan, penanaman nilai-nilai Pancasila melalui instrumen kurikulum sebagai pintunya untuk menciptakan pendidikan berkarakter perlu segera direalisasikan secara terstruktur, dengan catatan tetap berprinsip kepada membangun kesadaran bernegara bukan berprinsip pada target untuk mendapatkan ketaatan semu sebagaimana indoktrinasi Pancasila di Jaman Orde Baru.

*Penulis adalah WKM Kesiswaan dan Pembina OSIS MANJ sekaligus Guru Mata Pelajaran PPKN

The Best bookmaker bet365 Bonus