Logo

Musuh Menjadi Kawan

Oleh : Muhammad Yaufi Nur Muti’ullah

“ Jangan terlalu suka, khawatir nanti akan dibenci, dan Jangan terlalu benci, karena mungkin nanti akan disukai “. Demikian sebagian nasehat para sesepuh kita dulu. Awalnya, kita belum memahami betul maksud kontekstual nasehat itu. Kita bingung sebingung bingungnya. Jangankan paham, baca aja kadang masih perlu diulang beberapa kali karena dari sangat rumitnya nasehat itu. Tapi kemudian, setelah kita mengalami dan merasakan 2 kata tadi yakni suka dan benci maka kita pasti akan membenarkan dan menyakini seyakin-yakinya bahwa nasehat itu memang benar.

Rasa suka pasti kita hadiahkan pada kawan kita, karena dia selalu hadir disaat kita butuh, dia selalu ada mana kala yang lain tidak ada buat kita. Dan rasa benci kita berikan pada musuh bebuyutan kita, karena dia selalu menjadi penghalang dan perusak misi hidup kita. Namun, disadari tidak disadari suatu saat semua itu akan berbalik 180 derajat. Dia yang dulunya musuh entah kenapa malah menjadi kawan, dan dia yang dulunya kawan mengapa bisa sekarang menjadi musuh. PERCAYA? Mari kita buktikan.

Suatau kejadian yang bisa kita jadikan bukti adalah masuknya musuh-musuh kita para ilmuwan barat ke agama islam. Mereka berubah label dari musuh menjadi kawan, karena al-muslim akhul muslim. Awal kali, musuh –musuh kita berusaha mencari kelemahan islam melalui keserasian antara sains dan agama. Mereka ingin membuktikan bahwa agama islam tidak sejalur dengan sains. Mereka ingin menunjukan pada umat bahwa islam tidak bisa dipertanggung jawabkan kebenaranya karena tidak sejalur dengan sains. Namun setelah itu, apa yang terjadi? Bukan malah menemukan kelemahan islam, tapi mereka malah ta’jub dan tercengang karena islam sangatlah sejalur dengan sains, islam adalah agama yang sangat ilmiah. Dan akhirnya mereka memilih pindah agama ke agama yang diridhoi Allah (agama islam). Salah satu contohnya adalah teori penciptaan alam semesta. Dalam Al-qur’an surat AL-Anbiya’ {21} 30, Allah menjelaskan bahwa langit dan bumi dulunya merupakan sesuatu yang padu, kemudian keduanya terpisah. Teori ini telah dibuktikan oleh para ilmuwan yang akhirnya menghasilkan teori big bang.

 Hal semacam ini sangatlah sesuai dengan maqalah yang mengatakan, Ad dinu huwa al-aqlu La dina li man La aqla lahu(agama adalah aqal, tidak ada agama bagi orang yang tidak berekal)_.Maka dari itu , marilah kita pakai aqal kita agar kita benar-benar layak untuk dikatakan oarang yang beragama. Wallahu a’lam bisshowab

 

*Penulis adalah siswa aktif MA Nurul Jadid kelas X PK 1

manuruljadid © 2015