The best bookmaker bet365

Menu

Berjiwa Nasionalisme Bukan Etnosintrisme

  • Dilihat: 366

Oleh: Ainul Yakin*

Ada suatu maqalah yang berbunyi, cinta tanah air (negara) adalah sebagian dari pada iman (hubbul wathan minal iman). Artinya orang yang cinta kepada tanah air menandakan bahwa orang tersebut adalah orang yang beriman atau percaya kepada Allah SWT. Maka semakin kuat dan tinggi iman seseorang maka semakin cinta pula ia terhadap tanah airnya. Cinta yang dimaksud disini bukan hanya sebuah perasaan senang dan bangga terhadap tanah airnya semata tapi lebih dari itu cinta terhadap tanah air dibuktikan dengan tindakan kerja yang nyata.

Perwujudan cinta tidaklah kaku tapi fleksibel sesuai dengan sang pecinta itu sendiri. Perwujudan cinta seorang petani terhadap negeri, jelas berbeda dengan perwujudan cintanya seorang pejabat Negara, seorang guru atau pendidik tentu berbeda dengan cintanya seorang nelayan, seorang militer tentu berbeda dengan ekonom, politisi, pedagang dan demikianlah seterusnya.

Bentuk cinta seorang guru kepada negeri dibuktikan dengan mengajar dan mendidik siswa-siswa nya dengan penuh kesungguhan dan keikhlasan, cintanya seorang pejabat negara dibuktikan dengan memperjuangkan kesejahtearaan rakyat dan memberantasi tindakan korupsi, cintanya seorang nelayan diwujudkan dengan tidak merusak lingkungan laut dan seterusnya.

Sebagai warga Negara yang baik kita dituntut, bahkan wajib hukumnya untuk mencintai tanah air. Tanah air yang bernama Indonesia ini, tempat di mana kita dilahirkan, yang saat ini kita pijak, hidup dan mencari kehidupan di dalamnya dengan rasa aman dan nyaman tidak didapat dengan mudah, tidak juga gratis. Tetapi kemerdekaan negeri tercinta ini didapat dengan berdarah-darah melawan penjajah, penuh perjuangan dan kerja keras dengan menguris segala bentuk penjajahan untuk menuju kepada kemerdekaan.

Namun, di akhir-akhir ini hampir semua lapisan masyarakat mulai tampak tindakan-tindakan yang mengarah pada pengrusakan eksistensi negara, makar, ekploitasi terhadap kekayaan alam tanpa mempertimbangkan masa depan bangsa, dan tindakan kriminal, konflik kepentingan dan sebagainya. Tindakan tersebut jelas menunjukkan tindakan yang hanya mementingkan diri sendiri atau golongan, bukan tindakan yang menjunjung tinggi nilai-nilai nasional.

Melemahnya rasa nasionalisme dewasa ini mulai dirasakan banyak kalangan, bahkan sebagian warga lebih bangga terhadap daerahnya masing-masing. Lebih mementingkan golongannya yang pada akhirnya cenderung merendahkan pihak atau kelompok lain. Hal ini terbukti dengan sering terjadinya konflik antar daerah, konflik agama, konflik antar suporter sepak bola, konflik budaya, bahkan gerakan yang mengarah pada tindakan separatis dan seterusnya.

Untuk menekan terjadinya tindakan yang mengarah pada pengrusakan dan perpecahan kelompok diatas, setidak-tidaknya ada beberapa hal yang harus dilakukan yaitu sebagai berikut; sosialisasi dan pemahaman ideologi negara, kristalisasi dan internalisasi nilai-nilai kebangsaan, pengenalan budaya daerah, mentradisikan dialog antar agama dan peningkatan toleransi antar sesama warga serta menyelenggarakan adanya pendidikan multikultural dan kebhinnekaan. Dengan dilakukannya hal-hal tersebut dimungkinkan akan lahirnya generasi yang lebih berjiwa nasionalis yang selalu mendahulukan kepentingan bangsa dan Negara  dari pada jiwa etnosentris yang lebih mendahulukan kepentingan pribadi dan golongan. Wallahua’lam bishshawab.

*Guru Sosiologi dan Antropologi di MA Nurul Jadid Paiton Probolinggo

The Best bookmaker bet365 Bonus