• icon082230486626
  • iconmanuruljadid@gmail.com
  • iconPaiton, Probolinggo 67291

Guru MA Nurul Jadid Ikuti Kampanye Pesantren Ramah Santri

Senin, 25 Mei 2026 10:09 WIB 103 Madrasah
Blog Details

Kepala MA Nurul Jadid menyampaikan sambutannya di depan seluruh dewan guru

Probolinggo - MA Nurul Jadid Paiton Probolinggo menggelar kegiatan kampanye Pesantren Ramah Santri yang diinisiasi oleh tim satgas anti perundungan, Ahad (24/5/2026). Kegiatan yang berlangsung di aula MA Nurul Jadid mulai pukul 10.30 hingga 12.30 WIB tersebut diikuti oleh seluruh dewan guru sebagai upaya mewujudkan lingkungan pesantren yang aman, nyaman, dan bebas perundungan.

 

Dalam kegiatan tersebut, hadir sebagai pembicara KH. Mahfudz Faqih dan Moh. Kholil yang menyampaikan pentingnya membangun budaya pendidikan yang sehat, humanis, dan penuh kepedulian terhadap kondisi psikologis santri maupun peserta didik.

 

KH. Mahfudz Faqih dalam materinya menyoroti fenomena menurunnya jumlah santri secara nasional yang dinilai perlu menjadi perhatian bersama. Menurutnya, lingkungan pendidikan harus mampu menjadi tempat yang menenangkan dan memberi rasa aman bagi anak-anak.

KH. Mahfudz Faqih menjelaskan dampak paparan negatif terhadap cara kerja otak

 

Beliau juga mengingatkan pentingnya mengendalikan emosi dalam mendidik. Menurutnya, ketika emosi mulai memuncak, seseorang dianjurkan untuk mengambil wudlu dan menghindari situasi yang dapat memperkeruh keadaan.

 

Selain itu, KH. Mahfudz Faqih menekankan agar para pendidik tidak menjadi bagian dari pihak yang merusak pola pandang hidup anak. “Jangan sampai kita menjadi orang yang membuat skema pandangan hidup anak menjadi buruk hanya karena ucapan atau tindakan yang tidak disadari,” pesannya.

 

Sementara itu, Moh. Kholil mengangkat isu tentang bentuk-bentuk perundungan yang sering kali tidak disadari dalam lingkungan pendidikan. Ia menyebut bahwa terkadang seorang guru dapat melakukan silent bullying kepada murid melalui ucapan, sikap, ataupun tekanan emosional tertentu.

“Kita kadang tidak sadar telah melakukan silent bullying terhadap murid-murid kita sendiri,” ungkapnya di hadapan peserta.

 

Ia juga mengingatkan agar persoalan pribadi di tempat kerja tidak dilampiaskan kepada peserta didik melalui manipulasi emosi atau perlakuan yang tidak adil. Menurutnya, setiap anak memiliki karakter dan kemampuan yang berbeda sehingga tidak tepat jika dipaksa memenuhi standar yang sama.

“Jangan kita menginginkan orang lain sesuai dengan standar kita sendiri,” tegasnya.

 

Melalui kegiatan ini, tim satgas anti perundungan berharap seluruh civitas MA Nurul Jadid semakin memiliki kesadaran untuk menciptakan budaya pesantren yang lebih ramah, sehat, dan mendukung tumbuh kembang santri secara positif, baik secara akademik maupun emosional.