TES BACA KITAB: salah satupeserta ujian Taftis Qiraatul Kitab Peminatan Keagamaan, mereka harus menjalani ujian tersebut agar bisa naik kelas.
MANJ- Kelas unggulan Peminatan Keagamaan (PK) Madrasah Aliyah Nurul Jadid (MANJ) membuat standar khusus untuk kenaikan kelas. Peserta didiknya harus lulus tes baca kitab. Kemarin (21/3/21) para siswa unggulan kelas XI PK harus melalui uji kemampuan baca kitab dalam Taftis Qiraatul Kitab (TQK) agar bisa naik kelas.
Dalam ujian tersebut para siswa harus bisa membaca syarah kitab Fathul Qarib dengan baik, sesuai pedoman ilmu alat (nahwu dan sharaf). Selain membaca, penguji juga menilai kemampuan menterjemah, menyimpulkan dan bacaan susunan kalimatnya.
TQK dijadwalkan sejak kemarin dan hari ini (22/3/21). Kiai Miftahul Arifin yang menguji para siswa itu, beliau menguji peserta mulai pukul 10:00 – 16:00 WIB. Jeda istirahat pada jam 12:00 untuk ishoma. Dalam pantauan manj-online, hari ini TQK dilaksanakan untuk peserta didik putri, pukul 9:00 WIB TQK dimulai, satu jam lebih awal dari pada putra saat tes kemarin.

Menurut ketua peminatan PK Ustaz H. Nasiruddin, TQK yang dilaksanakan kemarin itu adalah taftis qubro, karena merupakan ujian terakhir bagi kelas XI. “Sebelumnya pertriwulan mereka sudah menjalani taftis. Yang pertama diuji oleh pengurus, kedua oleh pusat kendali mutu dan yang terakhir diuji oleh salah satu jajaran dari keluarga pengasuh,” ungkap beliau.
Tiga kali hasil TQK dijumlah, kemudian ditentukan rata-ratanya. “Jika belum memenuhi standar, mereka harus mengikuti remidi,” tegas Hasanul Faiz, ketua asrama PK yang saat itu hadir di acara tersebut. Jika dari hasil remidi masih belum tuntas, maka pihak asrama akan memberikan rekomendasi pada pihak madrasah untuk mempertimbangkan kenaikan kelas siswa tersebut.
Dikonfirmasi terpisah, kepala madrasah membenarkan kriteria kenaikan kelas untuk siswa unggulan PK. “Siswa PK yang tidak memenuhi nilai akumulasi dari kriteria tersebut tidak bisa naik kelas, untuk bisa naik kelas, harus pindah ke peminatan reguler di MANJ,” ujar beliau.
Oleh pihak madrasah, saat acara TQK berlangsung para siswa kelas X juga dihadirkan ke acara, mereka menyaksikan seniornya diuji oleh Kiai Miftahul Arifin. Dengan hadirnya mereka dan menyaksikan langsung jalannya ujian, diharapkan kelak saat mereka menjalani tes serupa bisa menghasilkan nilai yang bagus, secara psikologis juga siap.
“Wuih, menyaksikan teman-teman senior diuji langsung oleh kiai, saya malah ikutan dredeg, semoga kelak saya mampu melaluinya dengan baik, ” tutur Ismia Khilyati Salwa siswi kelas X yang menyaksikan jalannya ujian.
TQK hanya diberlakukan untuk kenaikan kelas XI ke kelas XII, sedangkan untuk siswa kelas XII menjalani pembuatan Tugas Akhir (TA). Meski kelas akhir tidak lagi ada TQK, namun kemampuan baca kitab mereka tetap dievaluasi di asrama oleh pengurus asrama dalam kegiatan rutin muthalaah dan kajian kitab kuning. (b4d)