Peserta didik Unngulan IPA (UI) berpose setelah rangakaian acara aksi seni dan penghargaan peserta didik terbaik
Probolinggo- Siswa Unggulan IPA mengikuti acara UI in Cinema (UIC) sekaligus penutupa ESA pada rabu (06/08) Setelah sempat terhenti selama beberapa tahun akibat pandemi COVID-19 dan penyesuaian kegiatan asrama baru, UI Cinema akhirnya kembali digelar untuk kedua kalinya. Acara ini disambut dengan antusias oleh calon siswa baru dari program unggulan IPA. UIC menjadi momen penting dalam membangkitkan kembali semangat berkarya serta mengapresiasi seni perfilman di lingkungan madrasah.
Diselenggarakan di Aula II Pondok pesantren Nurul Jadid UIC tahun ini mengangkat tema VOICES ON STAGE, MASSAGE TO THE WORLD. Acara ini menampilkan berbagai karya film pendek siswa unggulan IPA, terutama dari kelas XII, serta sesi apresiasi karya dari sineas muda UI.
“Selamat datang siswa peminatan UI yang telah hadir dikegiatan ini, juga untuk sekedar mengingatkan, bahwa kegiatan UIC baru dilaksankan 2 kali. UIC kembali dilaksanakan pada angkatan Infinite, yang selama 5 tahun vakum,” jelas Fathi.

Dari kiri koordinator peminatan Unggulan IPA (Musthofa), peserta didik terbaik (Ahmad Fadel), pembina asrama UI (Hendi) dalam sesi penganugrahan siswa terbaik.
Bapak Musthofa selaku kepala program, mengatakan, "UIC ini sudah lama vakum akibat pandemi COVID-19 dan penyesuaian kegiatan asrama baru. Alhamdulillah, sekarang sudah kedua kalinya diadakan. Tanpa perjuangan penuh, UIC ini tidak akan bisa terlaksana. Insya Allah ke depan, UIC akan rutin diadakan setiap tiga bulan sekali untuk menggali minat siswa unggulan IPA," ujarnya.
Tak hanya itu, beliau juga menyampaikan, biasanya yang menerima penghargaan hanya siswa yang merupakan Rangking 1, 2, 3 pada ujian ESA, tetapi kala itu berbeda, ada penambahan The Stars Student yang bisa diraih dengan cara peraih nilai ESA terbanyak. The Stars Student tersebut diraih oleh putra yakni Ahmad Fadel Rafid Alawy yang merupakan siswa yang pertama kali mendapatkan penghargaan tersebut.
Kegiatan diakhiri dengan penampilan drama yang diperankan oleh kelas XII. Drama tersebut berjudul Wiro Sableng, yang menceritakan murid dari pendekar misterius yang bernama Sinto Gendheng, yang mendapatkan titah dari guruntya untuk meringkus Mahesa Birawa (AF).