Edisi 30

Berdasarkan historisnya, negara Indonesia merupakan negara yang telah mengukuhkan rasa toleransi sejak awal berdirinya, hal tersebut telah terimplementasi berupaterbentuknya rumusan ideologi bangsa yang disebut dengan Pancasila demi terjalinnya keharmonisan antara masyarakat mayoritas dan minoritas di tengah keberagaman yang ada di Indonesia.
Tentunya, rasa toleransi harus tetap menggelora di benak warga kapiran (tak terurus) maupun para kaum elit. Namun, seiring dengan perkembangan zaman, rasa
toleransi yang telah mengakar di Indonesia seakan turut tergilas zaman, hal itu terbukti dengan merebaknya kasus intoleransi di bumi pertiwi ini.
Menurut survei Detik News, di tahun 2018 populasi kasus intoleransi membengkak 13 persen lebih parah dibanding tahun-tahun sebelumnya. Tak hanya itu, survei setara institute telah membuktikan bahwasanya toleransi di Indonesia telah mengalamai degradasi secara signifikan. Lantas siapakah biang keladi dibalik merebaknya kasus intoleransi yang terjadi?.
Melalui riset yang dilakukan oleh Setara Institute, tercatat bahwa peningkatan intoleransi di Indonesia tak jauh berhimpitan dengan adanya politik praktis yang dimainkan kaum elit. Partai politik yang hanya mengedepankan kekuasaan, menjadi aktor utama dalam maraknya kasus intoleransi di Indonesia.
Masyarakat yang tak tahu apa-apa mengenai dunia perpolitikan, akhirnya menjadi bulan bulanan bagi partai politik, mereka pun menjadi korban tak berdaya dari keganasan persaingan perpolitikan negara… Baca selengkapnya (klik gambar)